reog ponorogo
Selasa, 09 November 2010 - - 2 Comments
Reog adalah salah satu kesenian budaya yang berasal dari Jawa Timur bagian barat-laut dan Ponorogo dianggap sebagai kota asal Reog yang sebenarnya. Gerbang kota Ponorogo dihiasi oleh sosok warok dan gemblak, dua sosok yang ikut tampil pada saat reog dipertunjukkan. Reog adalah salah satu budaya daerah di Indonesia yang masih sangat kental dengan hal-hal yang berbau mistik dan ilmu kebatinan yang kuat.
sejarah
Pada dasarnya ada lima versi cerita populer yang berkembang di masyarakat tentang asal-usul Reog dan Warok [1], namun salah satu cerita yang paling terkenal adalah cerita tentang pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan pada masa Bhre Kertabhumi, Raja Majapahit terakhir yang berkuasa pada abad ke-15. Ki Ageng Kutu murka akan pengaruh kuat dari pihak rekan Cina rajanya dalam pemerintahan dan prilaku raja yang korup, ia pun melihat bahwa kekuasaan Kerajaan Majapahit akan berakhir. Ia lalu meninggalkan sang raja dan mendirikan perguruan dimana ia mengajar anak-anak muda seni bela diri, ilmu kekebalan diri, dan ilmu kesempurnaan dengan harapan bahwa anak-anak muda ini akan menjadi bibit dari kebangkitan lagi kerajaan Majapahit kelak. Sadar bahwa pasukannya terlalu kecil untuk melawan pasukan kerajaan maka pesan politis Ki Ageng Kutu disampaikan melalui pertunjukan seni Reog, yang merupakan "sindiran" kepada Raja Bra Kertabumi dan kerajaannya. Pagelaran Reog menjadi cara Ki Ageng Kutu membangun perlawanan masyarakat lokal menggunakan kepopuleran Reog.
Dalam pertunjukan Reog ditampilkan topeng berbentuk kepala singa yang dikenal sebagai "Singa Barong", raja hutan, yang menjadi simbol untuk Kertabumi, dan diatasnya ditancapkan bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas raksasa yang menyimbolkan pengaruh kuat para rekan Cinanya yang mengatur dari atas segala gerak-geriknya. Jatilan, yang diperankan oleh kelompok penari gemblak yang menunggangi kuda-kudaan menjadi simbol kekuatan pasukan Kerajaan Majapahit yang menjadi perbandingan kontras dengan kekuatan warok, yang berada dibalik topeng badut merah yang menjadi simbol untuk Ki Ageng Kutu, sendirian dan menopang berat topeng singabarong yang mencapai lebih dari 50kg hanya dengan menggunakan giginya [2]. Populernya Reog Ki Ageng Kutu akhirnya menyebabkan Kertabumi mengambil tindakan dan menyerang perguruannya, pemberontakan oleh warok dengan cepat diatasi, dan perguruan dilarang untuk melanjutkan pengajaran akan warok. Namun murid-murid Ki Ageng kutu tetap melanjutkannya secara diam-diam. Walaupun begitu, kesenian Reognya sendiri masih diperbolehkan untuk dipentaskan karena sudah menjadi pertunjukan populer diantara masyarakat, namun jalan ceritanya memiliki alur baru dimana ditambahkan karakter-karakter dari cerita rakyat Ponorogo yaitu Kelono Sewondono, Dewi Songgolangit, and Sri Genthayu.
Versi resmi alur cerita Reog Ponorogo kini adalah cerita tentang Raja Ponorogo yang berniat melamar putri Kediri, Dewi Ragil Kuning, namun ditengah perjalanan ia dicegat oleh Raja Singabarong dari Kediri. Pasukan Raja Singabarong terdiri dari merak dan singa, sedangkan dari pihak Kerajaan Ponorogo Raja Kelono dan Wakilnya Bujanganom, dikawal oleh warok (pria berpakaian hitam-hitam dalam tariannya), dan warok ini memiliki ilmu hitam mematikan. Seluruh tariannya merupakan tarian perang antara Kerajaan Kediri dan Kerajaan Ponorogo, dan mengadu ilmu hitam antara keduanya, para penari dalam keadaan 'kerasukan' saat mementaskan tariannya [3] .
pementasan seni reog
Reog modern biasanya dipentaskan dalam beberapa peristiwa seperti pernikahan, khitanan dan hari-hari besar Nasional. Seni Reog Ponorogo terdiri dari beberapa rangkaian 2 sampai 3 tarian pembukaan. Tarian pertama biasanya dibawakan oleh 6-8 pria gagah berani dengan pakaian serba hitam, dengan muka dipoles warna merah. Para penari ini menggambarkan sosok singa yang pemberani. Berikutnya adalah tarian yang dibawakan oleh 6-8 gadis yang menaiki kuda. Pada reog tradisionil, penari ini biasanya diperankan oleh penari laki-laki yang berpakaian wanita. Tarian ini dinamakan tari jaran kepang, yang harus dibedakan dengan seni tari lain yaitu tari kuda lumping. Tarian pembukaan lainnya jika ada biasanya berupa tarian oleh anak kecil yang membawakan adegan lucu.
Setelah tarian pembukaan selesai, baru ditampilkan adegan inti yang isinya bergantung kondisi dimana seni reog ditampilkan. Jika berhubungan dengan pernikahan maka yang ditampilkan adalah adegan percintaan. Untuk hajatan khitanan atau sunatan, biasanya cerita pendekar,
Adegan dalam seni reog biasanya tidak mengikuti skenario yang tersusun rapi. Disini selalu ada interaksi antara pemain dan dalang (biasanya pemimpin rombongan) dan kadang-kadang dengan penonton. Terkadang seorang pemain yang sedang pentas dapat digantikan oleh pemain lain bila pemain tersebut kelelahan. Yang lebih dipentingkan dalam pementasan seni reog adalah memberikan kepuasan kepada penontonnya.
Adegan terakhir adalah singa barong, dimana pelaku memakai topeng berbentuk kepala singa dengan mahkota yang terbuat dari bulu burung merak. Berat topeng ini bisa mencapai 50-60 kg. Topeng yang berat ini dibawa oleh penarinya dengan gigi. Kemampuan untuk membawakan topeng ini selain diperoleh dengan latihan yang berat, juga dipercaya diproleh dengan latihan spiritual seperti puasa dan tapa.
kontroversi
Tarian sejenis Reog Ponorogo yang ditarikan di Malaysia dinamakan Tari Barongan[4]. Tarian ini juga menggunakan topeng dadak merak, yaitu topeng berkepala harimau yang di atasnya terdapat bulu-bulu merak. Deskripsi dan foto tarian ini ditampilkan dalam situs resmi Kementrian Kebudayaan Kesenian dan Warisan Malaysia.
Kontroversi timbul karena pada topeng dadak merak di situs resmi tersebut terdapat tulisan "Malaysia",[5][6] dan diakui sebagai warisan masyarakat dari Batu Pahat, Johor dan Selangor, Malaysia. Hal ini memicu protes berbagai pihak di Indonesia, termasuk seniman Reog asal Ponorogo yang menyatakan bahwa hak cipta kesenian Reog telah dicatatkan dengan nomor 026377 tertanggal 11 Februari 2004, dan dengan demikian diketahui oleh Menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia.[7] Ditemukan pula informasi bahwa dadak merak yang terlihat di situs resmi tersebut adalah buatan pengrajin Ponorogo.[8] Ribuan seniman Reog sempat berdemonstrasi di depan Kedutaan Malaysia di Jakarta.[9] Pemerintah Indonesia menyatakan akan meneliti lebih lanjut hal tersebut.[7]
Pada akhir November 2007, Duta Besar Malaysia untuk Indonesia Datuk Zainal Abidin Muhammad Zain menyatakan bahwa Pemerintah Malaysia tidak pernah mengklaim Reog Ponorogo sebagai budaya asli negara itu. Reog yang disebut “Barongan” di Malaysia dapat dijumpai di Johor dan Selangor, karena dibawa oleh rakyat Jawa yang merantau ke negeri tersebut [10].
tari pendet
- - 0 Comments
Tari Pendet pada awalnya merupakan tari pemujaan yang banyak diperagakan di pura, tempat ibadat umat Hindu di Bali, Indonesia. Tarian ini melambangkan penyambutan atas turunnya dewata ke alam dunia. Lambat-laun, seiring perkembangan zaman, para seniman Bali mengubah Pendet menjadi "ucapan selamat datang", meski tetap mengandung anasir yang sakral-religius. Pencipta/koreografer bentuk modern tari ini adalah I Wayan Rindi (? - 1967).
Pendet merupakan pernyataan dari sebuah persembahan dalam bentuk tarian upacara. Tidak seperti halnya tarian-tarian pertunjukkan yang memerlukan pelatihan intensif, Pendet dapat ditarikan oleh semua orang, pemangkus pria dan wanita, dewasa maupun gadis.
Tarian ini diajarkan sekedar dengan mengikuti gerakan dan jarang dilakukan di banjar-banjar. Para gadis muda mengikuti gerakan dari para wanita yang lebih senior yang mengerti tanggung jawab mereka dalam memberikan contoh yang baik.
karapan sapi
- - 0 Comments
Karapan sapi merupakan istilah untuk menyebut perlombaan pacuan sapi yang berasal dari Pulau Madura, Jawa Timur. Pada perlombaan ini, sepasang sapi yang menarik semacam kereta dari kayu (tempat joki berdiri dan mengendalikan pasangan sapi tersebut) dipacu dalam lomba adu cepat melawan pasangan-pasangan sapi lain. Trek pacuan tersebut biasanya sekitar 100 meter dan lomba pacuan dapat berlangsung sekitar sepuluh sampai lima belas detik. Beberapa kota di Madura menyelenggarakan karapan sapi pada bulan Agustus dan September setiap tahun, dengan pertandingan final pada akhir September atau Oktober di kota Pamekasan untuk memperebutkan Piala Bergilir Presiden.
Ritual Tirta Amarta Sedudo
Jumat, 05 November 2010 - - 0 Comments
salah satu theory prosespembentukan bumi
- - 0 Comments
Teori Continental Drift adalah salah satu teori yang membahas tentang sejarah terbentuknya muka Bumi . Teori ini dibuat oleh Alfred Wegener . Beliau adalah ahli meteorologi Jerman . Berikut adalah sejarah singkat beliau ALFRED LOTHAR WEGENER, lahir di Berlin pada tanggal 1 November 1880 dan meninggal di Greenland pada tanggal 2 November 1930 adalah seorang ilmuwan, Geologist dan metereologist yang berasal dari Jerman. Beliau merupakan pencetus ide teori Pengapungan Benua yang diajukan pada tahun 1915 yang menjelaskan bahwa benua-benua di muka bumi ini bergerak secara perlahan dipermukaan Bumi. Akan tetapi dia tidak dapat menjelaskan mengenai mekanisme pergerakannya pada saat itu dan sedikitnya bukti-bukti pendukung sehingga teori ini kurang mendapat tanggapan sampai sekitar tahun 1950 dimana ditemukannya beberapa bukti-bukti yang dapat menjelaskan teori Pengapungan Benua (Continental Drift). Alfred Wegener memulai pendidikan di Jurusan Astronomi Universitas Berlin dan meraih gelar Ph.D pada tahun 1904. Dia tertarik dalam pengembangan di bidang metereologi dan klimatologi (dia menikahi putri metereologist dan klimatologist, Wladimir Köffen). Bukunya The Thermodynamics of the Atmosphere menjadi teks book standar dalam bidang metereologi. Wegener menjadi bagian dari beberapa ekspedisi ke Greenland untuk mempelajari pola sirkulasi udara. Alasan saya memilih materi ini karena teori ini berhubungan dngan sejarah dan perkembangan bentuk muka bumi . Teori ini juga memiliki banyak hal yang menarik . Kita perlu mengetahui hal yang lebih mendalam dari bumi kita . Banyak proses yang dilalui bumi kita untuk sampai pada tahap seperti sekarang DEFINISI Tiga abad sebelum ALFRED LOTHAR WEGENER (1880-1930) membuktikan bahwa kemiripan garis pantai sebelah timur benua Amerika Selatan dengan pantai sebelah barat benua Afrika terjadi karena kedua benua itu pernah “bersatu”, ABRAHAM ORTELIUS pembuat peta asal Belanda telah mengamati fenomena yang sama dan berpendapat bahwa Amerika dipisahkan dari Eropa dan Afrika oleh gempa bumi dan air bah (1596). Kemudian pada tahun 1858, seorang geografer bernama ANTONIO SNIDER-PELLEGRINI membuat 2 kartun model yang menunjukkan posisi dan bentuk benua Amerika Selatan dan Afrika sebelum dan sesudah terpisah. Modelnya aneh, terutama bentuk bagian selatan Argentina/Chile. Di kartun model versi Snider-Pellegrini ini, bagian Patagonia digambarkan tertekuk melengkung dari arah barat ke selatan kemudian ke timur dan berbalik ke utara, melingkari bagian selatan Afrika dan ujungPatagonia dibuat hampir menyentuh Madagaskar. Entah Snider-Pellegrini serius atau tidak saat mengerjakan kartunnya, imajinasinya secara tidak langsung juga telah menunjukkan bahwa Amerika Selatan dan Afrika dulu pernah berdampingan. Tapi imajinasi kedua orang yang baru diceritakan di atas tak pernah dilontarkan menjadi sebuah teori ilmiah sampai sekitar tahun 1910an. Pada musim gugur tahun 1911, saat sedang menghabiskan waktu di perpustakaan Universitas Marburg (Jerman), Wegener menemukan makalah palaeontologi tentang kesamaan jenis fosil-fosil tumbuhan dan hewan di Amerika Selatan dan Afrika, padahal, kedua benua itu dipisahkan oleh Samudera Atlantik yang luas. Rasa penasaran Alfred Wegener membuatnya mencari lebih banyak informasi mengenai kesamaan-kesamaan fosil di dua tempat terpisah tersebut, hingga akhirnya ia berpikir, “Mungkinkah kesamaan fosil-fosil di kedua sisi Atlantik terjadi karena dulu benua Afrika dan Amerika adalah satu kontinen?” Menurut para ahli geologi saat itu, model evolusi pembentukan Samudera Atlantik cuma sederhana saja. Gundu bulat disangka baut, dahulu darat sekarang laut. Penyebabnya? “Cuma” karena “jembatan penghubung” kedua daratan itu kolaps kemudian sekarang menjadi dasar laut. Sadar akan model sederhana ini telah diterima sebagai sebuah kebenaran, Wegener berusaha mencari bukti-bukti geologi lebih banyak untuk mendukung teori yang hendak ia lemparkan ke forum ilmiah. Ia pun menemukan bahwa Pegunungan Appalachian di bagian timur Amerika Utara tersambung dengan dataran tinggi Skotlandia (Highlands) dan perlapisan batuan Karroo System di Afrika Selatan identik dengan perlapisan batuan Santa Catarina System di Brazil. Wegener kemudian menulis sebuah buku yang berjudul “The Origin of Continents & Oceans” (judul asli dalam bahasa Jerman) pada tahun 1915, di mana teori Continental Drift dipublikasikan. Wegener, yang sebenarnya adalah seorang astronomer (Ph.D Universitas Berlin, 1904) dan bekerja sebagai meteorologist, tapi memiliki hobi di bidang ilmu kebumian, segera menjadi sasaran cemoohan ahli-ahli geofisika dan geologi kala itu. Ahli ilmu kebumian memang manusia yang aneh. Mereka cenderung sulit menerima sebuah teori baru, maupun sekedar sebuah pendapat lain atas keyakinan mereka sendiri, hanya karena mereka tidak tahu atau tidak paham tentang apa yang orang lain bicarakan. Ketika sudah merasa menjadi seorang ahli, mereka berpikir sudah tahu tentang segala hal, apalagi jika apa yang mereka bela adalah “kebenaran umum” yang berlaku. Padahal, jalan pikiran mereka hanya berdasar atas konsep-konsep ilmu kebumian, data-data dan teknik pengambilan data yang “ada” pada saat itu juga, bukan data dan alat baru yang ditemukan/diciptakan di masa depan. Sikap emosional seorang ahli geologi bernama DR. ROLLIN T. CHAMBERLIN dari Universitas Chicago membuatnya menulis sebuah makalah berjudul “Some of the objections to Wegener’s theory” (1928) dan memulai tulisannya dengan pertanyaan, “Bisakah kita menyebut geologi sebagai sebuah ilmu jika ada perbedaan pendapat yang begitu hebat untuk hal-hal dasar hingga teori semacam ini terus berkeliaran?”. Dr. Chamberlin berpendapat bahwa hipotesis Wegener sama sekali tak berdasar dan fakta fakta yang Wegener paparkan hanyalah fakta yang aneh dan buruk, seperti sebuah permainan tanpa peraturan. Masalah terbesar di teori Wegener yang membuat para ahli menolaknya adalah mekanisme perpindahan kontinen yang menurut Wegener terjadi karena daratan bergeser dengan dasar laut sebagai bidang pergeserannya. “Gaya sebesar apa yang bisa menarik daratan hingga terpisah begitu jauh di atas dasar laut sebagai bidang geser tanpa mematahkan dasar lautnya?” demikian tanya HAROLD JEFFREYS, ahli geofisika Inggris. Ekspedisi-ekspedisi geologi dilakukan oleh Wegener pada tahun 1920, 1922 dan 1929 untuk mencari lebih banyak fakta guna mendukung teorinya. Dalam ekspedisi terakhir, Wegener tewas setelah berhasil mengantarkan suplai makanan kepada koleganya yang sedang melakukan penelitian di tengah belantara es Greenland, hanya beberapa hari setelah ulang tahunya yang ke-50. Kelak, seperti yang telah kita ketahui, berawal dari eksplorasi permukaan laut dan kerak bumi, teori Continental Drift Wegener menjadi embrio bagi teori Tektonik Lempeng, di mana kerak bumi baik kontinen maupun kerak samudera ternyata bergerak di atas asthenosfer jadi bukan di atas dasar laut seperti hipotesis Wegener. Kontribusi Wegener bagi kelahiran teori Tektonik Lempeng di tahun 1960-an tentu tidak bisa diabaikan. Di buku “The origin of continents and oceans” edisi tahun 1920 (ada juga yang menyebutkan nama Pangaea sudah diperkenalkan sejak edisi 1915), Wegener berpendapat bahwa semua benua yang ada sekarang sebenarnya pernah bersatu sekitar 225 juta tahun yang lalu (Ma), yaitu pada Periode Trias Akhir (sudah masuk Era Mesozoik). Daratan maha luas ini ia beri nama Pangaea, sebuah kata dalam bahasa Yunani yang berarti “semua daratan”. Rekonstruksi lempeng tektonik modern dengan menggunakan data palaeo-magnetik memperlihatkan Pangaea sudah menjadi daratan berbentuk seperti huruf “C” pada sekitar 255 Ma (Permian Akhir). Pusat superkontinen Permian ini adalah Afrika, sedangkan di sebelah barat ada adalah Amerika Selatan, di baratlaut ada Amerika Utara, di utara dan timur laut ada Eropa, Asia dan Cina Utara, sedangkan di tenggara dan selatan ada India, Antartika dan Australia. Di sebelah timur? Ada lautan bernama Tethys, dan terakhir di sebelah timurnya Tethys, ada Cina Selatan. Sedangkan laut mahaluas yang mengelilingi Pangaea dinamakan Panthalassa. Pusat superkontinen Pangaea ditengarai berada di sekitar garis ekuator, kira-kira seperti posisi Indonesia sekarang (tentu saja secara garis lintang). Apa bukti keberadaan Pangaea selain rangkaian-rangkaian pegunungan yang identik seperti Appalachian-Scottish Highlands dan Karroo-Santa Catarina Systems seperti yang dikemukakan pertama kali oleh Wegener (1915)? Jawabannya adalah fosil-fosil genus Lystrosaurus dan genus Mesosaurus dan flora genus Glossopteris. Lystrosaurus adalah sejenis reptil pemakan tetumbuhan yang konon sebesar babi, dengan ekor lancip pendek, kaki pendek, daun telinga kecil dan kepala seperti harimau yang hidup pada Periode Permian-Trias. Entah palaeontologist mana yang berhasil merealisasikan imajinasi rupa Lystrosaurus ini, konon ia pernah hidup di Antartika, India, Afrika Selatan dan Cina. Mesosaurus adalah sejenis reptil amfibi yang hidup di air tawar. Bentuknya kira-kira seperti cecak, tapi kepalanya seperti buaya, badannya fleksibel dan konon ekornya dapat digunakan sebagai semacam sirip untuk berenang. Tidak jelas berapa ukurannya dan hidup pada berapa juta tahun yang lalu. Fosil ini ditemukan di Brasil dan Afrika bagian barat. Superkontinen Pangaea lalu mulai terpecah pada Periode Trias Akhir-Juras (Vaughan & Storey 2007), menghasilkan dua superkontinen yang lebih kecil yaitu Laurasia dan Gondwana. Laurasia yang bergerak ke arah utara. Intra-continental rifting kemudian diikuti sedimentasi endapan darat lalu diisi oleh air laut, menjadi Laut Atlantik bagian utara. Rift basins yang terbentuk saat Pangaea pecah masih bias dilihat di bagian Central Atlantic Margin, baik sebelah Amerika Utara maupun Moroko (Olsen, 1997). Teori Continental Drift Teori Continental Drift menyatakan bahawa permukaan Bumi terletak di atas kerak bumi yang tipis. Kerak bumi ini senantiasa bergerak disebabkan pergerakan magma dibawah kerak bumi. Segmen kerak bumi ini dikenali sebagai plat tektonik. Hipotesa utama dari continental drift (pengapungan benua) bahwa adanya satu “super continent” yang dinamakan pangea dan dikelilingi panthlasa lalu sekitar 200 juta tahun yang lalu super kontinen ini pecah menjadi benua yang lebih kecilyang kemudian bergerak ke tempatnya.Sedangkan hipoptesa lainnya menyatakan bahwa pada mulanya ada dua super kontinen , yaitu pangea utara yang disebut juga Laurasia, dan pangea selatan yang disebut jugaGondwanaland. Kedua benua ini dipisahkan samudra Tethys.
sing........
Selasa, 02 November 2010 - - 0 Comments




