*

Blog

Books

  • 21

friends

catatan kecil

anda tidak perlu ragu dengan yang nada punyai , dengan yang anda punyai , kalau pun toh itu lebih sedikit dibanding dengan yang teman anda punyai ? percayalah itu bukanlah sebuah hal yang akan menghambat kita.....

tinggal bagaimana kita mengolah, memproses, dan menggunakannya untuk menjadikan yang sedikit menjadi sesuatu yg besar...!!!!!!

dengan tekat yg kuat , dan niat yg benar.... INSYA'ALLOH , Alloh akan memberi jalan yang terbaik , sesuai dengan yang kita inginkan.......

pengunjung

salah satu theory prosespembentukan bumi

Jumat, 05 November 2010 - - 0 Comments

Teori Continental Drift adalah salah satu teori yang membahas tentang sejarah terbentuknya muka Bumi . Teori ini dibuat oleh Alfred Wegener . Beliau  adalah ahli meteorologi Jerman . Berikut adalah sejarah singkat beliau ALFRED LOTHAR WEGENER, lahir di Berlin pada tanggal 1 November 1880 dan meninggal di Greenland pada tanggal 2 November 1930 adalah seorang ilmuwan, Geologist dan metereologist yang berasal dari Jerman. Beliau merupakan pencetus ide teori Pengapungan Benua yang diajukan pada tahun 1915 yang menjelaskan bahwa benua-benua di muka bumi ini bergerak secara perlahan dipermukaan Bumi. Akan tetapi dia tidak dapat menjelaskan mengenai mekanisme pergerakannya pada saat itu dan sedikitnya bukti-bukti pendukung sehingga teori ini kurang mendapat tanggapan sampai sekitar tahun 1950 dimana ditemukannya beberapa bukti-bukti yang dapat menjelaskan teori Pengapungan Benua (Continental Drift). Alfred Wegener memulai pendidikan di Jurusan Astronomi Universitas Berlin dan meraih gelar Ph.D pada tahun 1904. Dia tertarik dalam pengembangan di bidang metereologi dan klimatologi (dia menikahi putri metereologist dan klimatologist, Wladimir Köffen). Bukunya The Thermodynamics of the Atmosphere menjadi teks book standar dalam bidang metereologi. Wegener menjadi bagian dari beberapa ekspedisi ke Greenland untuk mempelajari pola sirkulasi udara. Alasan saya memilih materi ini karena teori ini berhubungan dngan sejarah dan perkembangan bentuk muka bumi . Teori ini juga memiliki banyak hal yang menarik . Kita perlu mengetahui hal yang lebih mendalam dari bumi kita . Banyak proses yang dilalui bumi kita untuk sampai pada tahap seperti sekarang DEFINISI Tiga abad sebelum ALFRED LOTHAR WEGENER (1880-1930) membuktikan bahwa kemiripan garis pantai sebelah timur benua Amerika Selatan dengan pantai sebelah barat benua Afrika terjadi karena kedua benua itu pernah “bersatu”, ABRAHAM ORTELIUS pembuat peta asal Belanda telah mengamati fenomena yang sama dan berpendapat bahwa Amerika dipisahkan dari Eropa dan Afrika oleh gempa bumi dan air bah (1596). Kemudian pada tahun 1858, seorang geografer bernama ANTONIO SNIDER-PELLEGRINI membuat 2 kartun model yang menunjukkan posisi dan bentuk benua Amerika Selatan dan Afrika sebelum dan sesudah terpisah. Modelnya aneh, terutama bentuk bagian selatan Argentina/Chile. Di kartun model versi Snider-Pellegrini ini, bagian Patagonia digambarkan tertekuk melengkung dari arah barat ke selatan kemudian ke timur dan berbalik ke utara, melingkari bagian selatan Afrika dan ujungPatagonia dibuat hampir menyentuh Madagaskar. Entah Snider-Pellegrini serius atau tidak saat mengerjakan kartunnya, imajinasinya secara tidak langsung juga telah menunjukkan bahwa Amerika Selatan dan Afrika dulu pernah berdampingan. Tapi imajinasi kedua orang yang baru diceritakan di atas tak pernah dilontarkan menjadi sebuah teori ilmiah sampai sekitar tahun 1910an. Pada musim gugur tahun 1911, saat sedang menghabiskan waktu di perpustakaan Universitas Marburg (Jerman), Wegener menemukan makalah palaeontologi tentang kesamaan jenis fosil-fosil tumbuhan dan hewan di Amerika Selatan dan Afrika, padahal, kedua benua itu dipisahkan oleh Samudera Atlantik yang luas. Rasa penasaran Alfred Wegener membuatnya mencari lebih banyak informasi mengenai kesamaan-kesamaan fosil di dua tempat terpisah tersebut, hingga akhirnya ia berpikir, “Mungkinkah kesamaan fosil-fosil di kedua sisi Atlantik terjadi karena dulu benua Afrika dan Amerika adalah satu kontinen?” Menurut para ahli geologi saat itu, model evolusi pembentukan Samudera Atlantik cuma sederhana saja. Gundu bulat disangka baut, dahulu darat sekarang laut. Penyebabnya? “Cuma” karena “jembatan penghubung” kedua daratan itu kolaps kemudian sekarang menjadi dasar laut. Sadar akan model sederhana ini telah diterima sebagai sebuah kebenaran, Wegener berusaha mencari bukti-bukti geologi lebih banyak untuk mendukung teori yang hendak ia lemparkan ke forum ilmiah. Ia pun menemukan bahwa Pegunungan Appalachian di bagian timur Amerika Utara tersambung dengan dataran tinggi Skotlandia (Highlands) dan perlapisan batuan Karroo System di Afrika Selatan identik dengan perlapisan batuan Santa Catarina System di Brazil. Wegener kemudian menulis sebuah buku yang berjudul “The Origin of Continents & Oceans” (judul asli dalam bahasa Jerman) pada tahun 1915, di mana teori Continental Drift dipublikasikan. Wegener, yang sebenarnya adalah seorang astronomer (Ph.D Universitas Berlin, 1904) dan bekerja sebagai meteorologist, tapi memiliki hobi di bidang ilmu kebumian, segera menjadi sasaran cemoohan ahli-ahli geofisika dan geologi kala itu. Ahli ilmu kebumian memang manusia yang aneh. Mereka cenderung sulit menerima sebuah teori baru, maupun sekedar sebuah pendapat lain atas keyakinan mereka sendiri, hanya karena mereka tidak tahu atau tidak paham tentang apa yang orang lain bicarakan. Ketika sudah merasa menjadi seorang ahli, mereka berpikir sudah tahu tentang segala hal, apalagi jika apa yang mereka bela adalah “kebenaran umum” yang berlaku. Padahal, jalan pikiran mereka hanya berdasar atas konsep-konsep ilmu kebumian, data-data dan teknik pengambilan data yang “ada” pada saat itu juga, bukan data dan alat baru yang ditemukan/diciptakan di masa depan. Sikap emosional seorang ahli geologi bernama DR. ROLLIN T. CHAMBERLIN dari Universitas Chicago membuatnya menulis sebuah makalah berjudul “Some of the objections to Wegener’s theory” (1928) dan memulai tulisannya dengan pertanyaan, “Bisakah kita menyebut geologi sebagai sebuah ilmu jika ada perbedaan pendapat yang begitu hebat untuk hal-hal dasar hingga teori semacam ini terus berkeliaran?”. Dr. Chamberlin berpendapat bahwa hipotesis Wegener sama sekali tak berdasar dan fakta fakta yang Wegener paparkan hanyalah fakta yang aneh dan buruk, seperti sebuah permainan tanpa peraturan. Masalah terbesar di teori Wegener yang membuat para ahli menolaknya adalah mekanisme perpindahan kontinen yang menurut Wegener terjadi karena daratan bergeser dengan dasar laut sebagai bidang pergeserannya. “Gaya sebesar apa yang bisa menarik daratan hingga terpisah begitu jauh di atas dasar laut sebagai bidang geser tanpa mematahkan dasar lautnya?” demikian tanya HAROLD JEFFREYS, ahli geofisika Inggris. Ekspedisi-ekspedisi geologi dilakukan oleh Wegener pada tahun 1920, 1922 dan 1929 untuk mencari lebih banyak fakta guna mendukung teorinya. Dalam ekspedisi terakhir, Wegener tewas setelah berhasil mengantarkan suplai makanan kepada koleganya yang sedang melakukan penelitian di tengah belantara es Greenland, hanya beberapa hari setelah ulang tahunya yang ke-50. Kelak, seperti yang telah kita ketahui, berawal dari eksplorasi permukaan laut dan kerak bumi, teori Continental Drift Wegener menjadi embrio bagi teori Tektonik Lempeng, di mana kerak bumi baik kontinen maupun kerak samudera ternyata bergerak di atas asthenosfer jadi bukan di atas dasar laut seperti hipotesis Wegener. Kontribusi Wegener bagi kelahiran teori Tektonik Lempeng di tahun 1960-an tentu tidak bisa diabaikan. Di buku “The origin of continents and oceans” edisi tahun 1920 (ada juga yang menyebutkan nama Pangaea sudah diperkenalkan sejak edisi 1915), Wegener berpendapat bahwa semua benua yang ada sekarang sebenarnya pernah bersatu sekitar 225 juta tahun yang lalu (Ma), yaitu pada Periode Trias Akhir (sudah masuk Era Mesozoik). Daratan maha luas ini ia beri nama Pangaea, sebuah kata dalam bahasa Yunani yang berarti “semua daratan”. Rekonstruksi lempeng tektonik modern dengan menggunakan data palaeo-magnetik memperlihatkan Pangaea sudah menjadi daratan berbentuk seperti huruf “C” pada sekitar 255 Ma (Permian Akhir). Pusat superkontinen Permian ini adalah Afrika, sedangkan di sebelah barat ada adalah Amerika Selatan, di baratlaut ada Amerika Utara, di utara dan timur laut ada Eropa, Asia dan Cina Utara, sedangkan di tenggara dan selatan ada India, Antartika dan Australia. Di sebelah timur? Ada lautan bernama Tethys, dan terakhir di sebelah timurnya Tethys, ada Cina Selatan. Sedangkan laut mahaluas yang mengelilingi Pangaea dinamakan Panthalassa. Pusat superkontinen Pangaea ditengarai berada di sekitar garis ekuator, kira-kira seperti posisi Indonesia sekarang (tentu saja secara garis lintang). Apa bukti keberadaan Pangaea selain rangkaian-rangkaian pegunungan yang identik seperti Appalachian-Scottish Highlands dan Karroo-Santa Catarina Systems seperti yang dikemukakan pertama kali oleh Wegener (1915)? Jawabannya adalah fosil-fosil genus Lystrosaurus dan genus Mesosaurus dan flora genus Glossopteris. Lystrosaurus adalah sejenis reptil pemakan tetumbuhan yang konon sebesar babi, dengan ekor lancip pendek, kaki pendek, daun telinga kecil dan kepala seperti harimau yang hidup pada Periode Permian-Trias. Entah palaeontologist mana yang berhasil merealisasikan imajinasi rupa Lystrosaurus ini, konon ia pernah hidup di Antartika, India, Afrika Selatan dan Cina. Mesosaurus adalah sejenis reptil amfibi yang hidup di air tawar. Bentuknya kira-kira seperti cecak, tapi kepalanya seperti buaya, badannya fleksibel dan konon ekornya dapat digunakan sebagai semacam sirip untuk berenang. Tidak jelas berapa ukurannya dan hidup pada berapa juta tahun yang lalu. Fosil ini ditemukan di Brasil dan Afrika bagian barat. Superkontinen Pangaea lalu mulai terpecah pada Periode Trias Akhir-Juras (Vaughan & Storey 2007), menghasilkan dua superkontinen yang lebih kecil yaitu Laurasia dan Gondwana. Laurasia yang bergerak ke arah utara. Intra-continental rifting kemudian diikuti sedimentasi endapan darat lalu diisi oleh air laut, menjadi Laut Atlantik bagian utara. Rift basins yang terbentuk saat Pangaea pecah masih bias dilihat di bagian Central Atlantic Margin, baik sebelah Amerika Utara maupun Moroko (Olsen, 1997). Teori Continental Drift Teori Continental Drift menyatakan bahawa permukaan Bumi terletak di atas kerak bumi yang tipis. Kerak bumi ini senantiasa bergerak disebabkan pergerakan magma dibawah kerak bumi. Segmen kerak bumi ini dikenali sebagai plat tektonik. Hipotesa utama dari continental drift (pengapungan benua) bahwa adanya satu “super continent” yang dinamakan pangea dan dikelilingi panthlasa lalu sekitar 200 juta tahun yang lalu super kontinen ini pecah menjadi benua yang lebih kecilyang kemudian bergerak ke tempatnya.Sedangkan hipoptesa lainnya menyatakan bahwa pada mulanya ada dua super kontinen , yaitu pangea utara yang disebut juga Laurasia, dan pangea selatan yang disebut jugaGondwanaland. Kedua benua ini dipisahkan samudra Tethys.

This entry was posted on 05.27 You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

0 komentar: