Ritual Tirta Amarta Sedudo
Jumat, 05 November 2010 - - 0 Comments
Ritual Tirta Amarta Sedudo Sebagai Warisan Budaya Daerah
Bernilai Eksotis
Keberadaan air terjun pada mulanya hanya sebagai proses alam biasa, namun dalam perkembangannya tidak terlepas dari cerita misteri yang kemudian mentradisi. Seperti halnya cerita yang mewarnai air terjun Sedudo, yang kemudian melatarbelakangi lahirnya ritual Siraman Tirta Amarta Sedudo.
Diceritakan bahwa siraman diambil dara kata dasar “Siram” yang dalam istilah jawa berarti mandi atau menyiramkan air ke seluruh tubuh. “Tirta” dalam istilah jawa diartikan dengan air. Sedangkan kata “Amarta” atau orang jawa menyebutnya “Ngamarta” diambil dari sebuah nama kerajaan yang terkenal dalam cerita jawa. Dan kata “Sedudo” sendiri merupakan gabungan dari kata “Se” yang berarti satu dan kata “Dudo” yang berarti seorang lelaki yang sudah tidak mempunyai istri. Kata “Sedudo” itupun sekarang digunakan sebagai nama air terjun yang berada di lereng gunung Wilis, tepatnya di desa Ngliman, kecamatan Sawahan, Kabupaten Nganjuk. Menurut kepercayaan penduduk, sang dudo tersebut ialah orang yang membuka ( cikal bakal ) desa Ngliman, yang setiap hari mandi di air terjun. Karena air terjun tersebut sering digunakan olaeh sang duda, ahirnya dikenalah istilah sedudo. Sebagai penghormatan terhadap sang dudo yang dianggap sebagai cikal bakal desa Ngliman itu, kebiasaan mandi di air terjun tersebut kemudian diikuti oleh warga Ngliman yang dilaksanakan tiap satu tahun sekali.
Diceritakan pula bahwa air terjun Sedudo ini dianggap suci dan mempunyai nilai magis yang tinggi. Oleh karena itu, airnya digunakan dalam upacara Prana Prahista, yaitu upacara memandikan arca yang terdapat di candi Candrageni dan Candi ngetos. Kepercayaan ini diperkuat dengan adanya mitos bahwa setiap orang yang mandi di air terjun Sedudo pada bulan Suro akan awet muda. Mitos ini konon sudah ada sejak zaman kejayaan Majapahit. Sehingga banyak sekali pengunjung yang menyaksikan dan mengikuti ritual Siraman Tirta Amarta Sedudo yang diselenggarakan setiap tanggal satu bulan Suro.
Prosesi Siraman Tirta Amarta sedudo ini dipimpin langsung oleh Bupati kabupaten Nganjuk. Dalam prosesi ritual tirta amarta sedudo terdapat beberapa rangkaian kegiatan seperti, pengambilan air dari air terjun dengan menggunakan kendil ( sejenis wadah sebagai tempat mengisi air yang terbuat dari tanah liat) yang dilakukan oleh para pejaka dan para perawan atau sering juga disebut “Si rambut dhowo”. Air dalam kendil tersebut lalu dibawa dan disimpan untuk digunakan dalam upacara Prana prathista. Ada juga beberapa tarian yang dibawakan oleh beberapa penari dengan serangkaian gerakan yang melambangkan kehidupan alam. Para pembawa kendil dan penari sengaja dipilih dari golongan jejaka dan perawan yang menyimbolkan kesucian. Serangkaian acara prosesipun diakhiri dengan doa dari juru kunci setempat dan diiringi dengan music gamelan dan lagu iringan “Lir-ilir”.
Ritual Tirta Amarta Sedudo merupakan salah satu bukti bahwa budaya tradisional mempunyai nilai eksotisme yang tinggi. Jika tradisi ini tidak dilestarikan, maka lama kelamaan tradisi tersebut akan luntur dan semakin punah. Oleh karena itu, ritual Tirta Amarta Sedudo ini digunakan oleh pemerintah kabupaten Nganjuk sebagai salah satu upaya pelestarian kebudayaan daerah. Karena para remaja yang berperan penting dalam pelaksanaan ritual tersebut diambil dari siswa siswi sekolah menengah di Nganjuk. Mereka dilatih dan dibimbing selama kurang lebih dua bulan untuk mengikuti Ritual Tirta Amarta Sedudo.
Diharapkan pemerintah dan masyarakat bisa terus menjaga eksistensi kebudayaan ini untuk para generasi berikutnya. Sehingga kita dan generasi mendatang bias tetap mempunyai budaya yang menjadi identitas dan ciri khas daerah kita serta bisa dibanggakan dengan nilai keeksotisannya.
This entry was posted on 05.30
You can follow any responses to this entry through
the RSS 2.0 feed.
You can leave a response,
or trackback from your own site.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar